Skenario Ilahi
Alqur’an bergema saling bersautan satu dengan lainya, bak racun yang
membius bagi pendengarnya membawa kedamaian dan ketentraman
hati. Hembusan angin yg berhembus menyibak ditengah lautan padi
yang terhampar hijau disamping kanan dan kiri masjid kami, seraya
berkata ”ternyata disini indah”.
Di depan Jami’ Nampak seseorang yang gagah perkasa, layaknya
Panglima perang yg berpawakan garang ditambah sajadah hitam di
pundak kiri yang melengkapi busananya, menambah wibawa nan
ketampanannya,. Sebut saja “Bagian keamanan”. Tepukan tanganya
dan tatapan matanya layaknya mata sang elang hitam. Siap menerkam
mangsanya. Bahkan tanpa sungkan melumat habis daging buruanya
tersebut, sukses membuat para Santri dengan sigapnya berlarian ke
titik pusat yang menjiwai pondok pesantren “Masjid”.
Prok….prok……prok….. bunyi Hasil bertatapanya tangan kanan dan kiri
dari pemuda itu “Bagian Keamanan”. Tatkala berderingnya suara
“Jaros” bel komando yang mengatur segala kegiatan dipondok
pesantren itu. Diangkatnya tangan dari sang pemuda.
Qif qif qum “pinta bagian keamanan yang artinya berhenti dan
berdirilah”.
Dengan muka masam dan polos, terlihat dari wajah Faruq. Dengan
sajadah besar dan Tas sandal yg di genggam ditangan kananya.
Faruq adalah santri kelas 5 KMI (Kulliyatul Muallimin Al Islamiyah).
Sederajat Kelas dua SMA ”Sekolah Menengah Atas”.
Yang dimana dalam Dinamika kehidupan Pondok Pesantren ternama
itu, Kelas lima yang bertugas layaknya Motor atau Dynamo yang
bertugas sebagai penggerak seluruh Lini Dinamika kehidupan Pondok
Pesantren . “Kullu Ma Yarouhu At-talamidzu wa ma yasma’unahu min
Harokatin Wa Aswatin Fi Hadzal Ma’had Yakunu Amilan Min Awamili
an najah”, Ujar Pendiri Pondok Pesantren Tersebut dalam Kitab “At
Tarbiyah”. Menurutnya, Segala sesuatu yang ada dalam Pondok
Pesantren itu adalah Sebuah Partikel-partikel Komponen yang akan
membentuk Santri-santri.
Yang dimana, Santri mendapatkan ilmu, tidak
hanya didalam Kelas. Bahkan, Setiap Apa-apa yang ia lihat ataupun
dengarkan dari Kehidupan dipondok adalah Ilmu. Tatkala mereka
Keluar dari pondok pesantren, Mereka sudah siap Berkiprah di
masyarakat. Dengan “Life Skill” yang Di bekali pondok.
Min aina antum taakhortum? “Dari mana kamu ” (Tanya bagian
keamanan dengan muka garang).
Afwan al akh “Maaf kak”. Dengan bermuka Melas kalem tergambar
jelas darah jawanya.
Jangan di ulang lagi ya, ingat kamu sudah kelas lima, yang seharusnya
menjadi “qudwah hasanah” contoh yang baik bagi adik-adik kelas
kamu. (Dengan posisi kedua tangannya mencengkram telinga Faruq).
Meskipun Faruq merasa kesakitan, akan tetapi Sedari dulu Faruq
selalu Ridho dan menerima hukuman dari Senior ataupun Ustaznya
tatkala di berikan hukuman. Baginya, semua Hukuman adalah Sebuah
alat yang berdampak positif baginya agar ia enggan untuk
mengulanginya.
Hari ini hari kamis. Dimana faruq biasa menuanaikan ibadah
rutinitasnya yaitu puasa senin dan kamis.
Seperti biasa, Sembari menunggu waktu buka tiba. Faruq selalu
duduk di teras belakang masjid. Dengan Suara kapasnya faruq
melandai landai menghanyutkan para pendengarnya. tak ayal, kedua
orang tua faruq adalah seorang Guru Ngaji, yang lumayan terkenal di
daerahnya. Dari kecil faruq sudah diajarkan beberapa lagu-lagu
murottal.
Allahu akbar allahu akbar……….allahu akbar allahu akbar azan maghrib
telah berkumandang .
Dengan sigapnya, faruq mengambil botol airnya dan membatalkan
puasanya.
Alhamdulillah, lengkap sudah puasaku hari ini “gumamnya dalam hati ,
dengan senyumnya yang khas lesung pipinya memberkah”.
Selepas membatalkan puasanya, faruq yang masih tohir ”masih punya
wudhu” masuk kedalam masjid dan mengambil shof paling depan.
Setelah Selesai sholat,ia menuju ke belakang masjid. mengambil
sendalnya yang masih terbungkus rapi didalam Tas Sandal yang ia taruh
di rak sandal belakang masjid.
Faruq………”sapa farhan” ketika hendak memakai sandal.
Hai han………” saut faruq “
Nte mau kemana abis ini? (Tanya farhan kepada faruq) .
Oooh, ana mau kedapur han, mau buka puasa hehe (jawab faruq
dengan senyuman).
Waaah, kamu puasa ya ruq?” Tanya farhan dengan nada ta’jub
Iya han, Alhamdulillah. (jawab Faruq, penuh rasa Syukur).
Ooooh, yaudah Ruq, ikut ana aja ke Maqsof “ kantin”
Aduuh, afwan han. Aku lagi nggak ada uang “jawab faruq “
Santeeeee guys, Aku ada koq, Jangan Menolak Rejeki Ruq. (Rayu
Farhan Dengan senyum penuh harap)
Begitulah Farhan, meskipun orangnya agak sedikit nakal, tapi sejatinya
dia orang yang baik dan tidak sombong .Penampilanya yang super
sederhana, menolak percaya bahwasanya ayahnya adalaha salah
seorang Donator rutin Pondok kami.
Kami telah berteman cukup sangat lama. Tak terasa, sudah Lima
tahun kami bersahabat. Masih terekam jelas kala itu, Awal pertama aku
berkenalan dengan Farhan.
Farhan kecil yang masih sangat penakut,
Hobinya nangis, pingin pulang. Kami berkenalan ketika acara Folk Song
Gembira. Aku yang menjadi vokalis dalam acara itu dan farhan yang
bertugas menjadi penari latar. Dari seringnya latihan itu, kami menjadi
seorang sahabat yang akrab bahkan sampek kami duduk di kelas lima
KMI Kulliyatil Mu’allimin Al Islamiyah.
Singkat cerita
Esok hari, adalah hari yang sangat ditakuti oleh sebagian santri kelas
lima. Anak-anak Menyebutnya dengan Yaumul Hisab “Hari
perhitungan”.
Ratusan santri kelas lima, sejak pagi sudah memenuhi tempat-tempat
Yudisium kenaikan kelas lima yang sudah disiapkan. Lautan putih
Nampak dari kejauhan.
Para pemegang tongkat Estafet Islam itu, tak hentinya Bertasbih,
Bertahmid, Bertauhid. Belitan tasbih berwarna coklat melingkar di
tangan kananku. Yang tak henti hentinya aku putarkan, sembari mulut
Berucap kalimat, Tasbih, Tahmid, Tauhid, seperti sebagian besar santri
kelas lima lain lakukan. Aku dan Farhan duduk bersebelahan. Kami
berharap semoga kami bisa naik ke kelas enam.
Ustaz wawan mulai mengambil microphone dan memberi nasehat
kepada kami.
“asssalamualaikum waroh matullahi wabarokatuh”
Ayyuha syabab, hari yang kita tunggu telah tiba, yaitu hari Yudisium
santri kelas lima. Maka ustaz sebagai pembimbing antum berpesan,
harus siap lahir, Harus siap batin atas segala keputusan yang ada. Tepat
Sebelas bulan yang lalu, Dari Awal Ustaz selalu berpesan kepada kalian,
Nak belajar, Nak bawa buku kemana mana, Nak Yudisium itu ngeri, Nak
Mengulang kelas itu sangat sangat enggak enak. Apalagi mengulang
dikelas lima. dan hari ini, kalian akan merasakanya sendiri, bagaimana
itu Yudisium kelas lima.
Maka kalian harus kuat, Kalian harus tegar, Kalian harus Survive, atas
segala keputusan yang ada. Ustaz Percaya dan Yakin, Kalian Pasti bisa,
kalian pasti Naik Semua.
Ammmiiin “Jawab seluruh santri kelas lima tatkala Ustaz Berkata naik”
Sekian pesan dari ustaz wassalamualaikum wr wb
Dan akhirnya, Yudisium pun dimulai.
Ada Tiga macam panggilan:
1. Panggilan A. yaitu; bagi santri kelas Lima yang naik ke kelas enam
di Kampus pusat.
2. B. yaitu; bagi santri kelas lima yang naik ke kelas enam di Kampus
Cabang.
3. C. yaitu; bagi santri kelas lima yang tidak naik.
Panggilan Pertama, yaitu Dengan Kriteria A.
Suasana berganti hening, Semua panca indra dari setiap individual
peserta yudisium, tertuju kepada Ust Sofwan. “Selaku panitia ujian yang
bertugas”.
Ananda Fatih budiman……..Ananda ………zulhelmi Radithia >>> satu
persatu di sebutkan, Hingga terakhir Ananda Reza pamungkas.
Yang lain di harap menunggu “Ujar ustaz Sofwan selaku Panitia”
Panggilan Pertama Telah berakhir, Akan tetapi nama kami berdua
belum juga di sebutkan.
Hatiku mulai kacau, rasa Putus harapan mulai tumbuh tanpa sengaja air
mataku jatuh dengan sendirinya.
Aku menengok ke sisi Farhan. Farhan Dengan tegarnya berkata;
Serahkan Semua pada allah Percaya deh. Sedikit asupan semangat
yang di berikan farhan menenangkan hatiku yang penuh dengan
kekacauan. Aku membalasnya dengan senyum harapan
Baiklah anak anak kita Lanjutkan yudisium kita. “Ujar Ust. Sofwan”.
Panggilan Kedua Dengan Kriteria B : yaitu santri kelas Lima yang naik ke
kelas enam Di pondok Cabang .
Ananda Fikri Ardiyansyah…….Ananda Rizal Muttaqin……..
Ananda Faruq Fathurrahman…………aku Menggelengkan kepala seraya
bertanya “yang bener?”
Ruq Faruq di panggil tuh. “Ujar Farhan Dengan Nada tinggi kepadaku”
Tanpa menunggu lama, Aku segera mengambil langkahku Berlari
dengan penuh syukur. Menuju Balai pertemuan Seperti apa yang Santri
lain lakukan. Sesampainya di dalam balai pertemuan, aku diarahkan
oleh seorang Ustaz, selaku panitia ujian untuk duduk di Bangku yang
sudah disiapkan untukku. akan tetapi rasa bahagiaku belum lengkap.
Bahkan berganti cemas, menunggu Sahabatku yang belum juga di
panggil namanya.
Balai pertemuanpun Mulai penuh. rasa cemasku semakin memuncak
Pandanganku, tak pernah berpaling dari pintu masuk Balai pertemuan
itu. Dengan harapan farhan di panggil namanya dan masuk kedalam
Balai pertemuan hingga farhan dapat duduk di sampingku .
Ananda Farhan Fuadi. Aku Mendengar nama Farhan samar-samar
Sudah di panggil.
Sungguh, rasa cemas itu Berganti menjadi bahagia. Kala Farhan Datang
dari arah pintu Balai pertemuan.
Akhirnya Panggilan B pun Berakhir.
Kemudian Salah seorang Ustaz yang bertugas sebagai panitia Yudisium
menerangkan bahwasanya kami di bagi menjadi 9 kelompok. Dengan
artian aku dan Faruq sudah bukan lagi satu pondok yang sama seperi
dahulu.
Aku, yang melanjutkan Study sebagai santri kelas enam di Kampus dua,
dan Farhan yang melanjutkan Study sebagai santri kelas enam di
kampus Sembilan Kalianda Lampung.
Aku tak tahu, ungkapan kata apakah yang pantas aku ucapakan .
Bahagia, “karna aku bisa naik kelas enam”. Namun disisi lain,
Bersedih, “karena aku dan farhan Sahabat sejak dari awal pertama
masuk pesantren selalu bersama, akan tetapi terpisah dengan pondok
yang berbeda”.
Akan tetapi dari sini aku dapat mengambil banyak pelajaran
Belajar arti sebuah manisnya Cinta, Harmonisnya sebuah
persahabatan.
Belajar akan arti keikhlasan, Ikhlas melepaskan Seseorang yang sangat
beharga dalam hidup kita dan tentunya sangat kita sayang .
Belajar Bahwasanya, Di dunia ini taka da satupun yang kekal abadi.
Karena pada dasarnya Sifat Kekal ata Baqo’ itu hanya milik allah
semata.
Dan Sesungguhnya apa yang telah di gariskan oleh Allah Subhanahu
wata’ala, Dengan segala Skenario Allah yang telah Di tetapkan Kepada
kita itu semua pasti akan ada hikmahnya.
Labels:
Cerpen

Tidak ada komentar:
Posting Komentar