PULANG
Lukisan dilangit itu begitu menggoda. Hamparan awan putih berarakan, laksana barisan malaikat sedang rukuk sepanjang mata memandang. Panorama itu begitu ikhsan . pelukis handal pun tak mungkin menandingi karya sang maha pencipta keindahan.
Dari jendela pesawat, ia menikmati Ayaat-ayat kauniyah, hatinya terus bertasbih. Tak terasa berlinang air matanya. Ia merasa seperti sedang bermimpi, tapi yang dialaminya bukanlah mimpi. Itu nyata.
Genap Tiga tahun sudah kehidupanya di mesir setiap saat ia merasakan keindahan dan kenikmatan. Allah izinkan ia merasakan pengalaman- pengalaman baru, di dunia yang berbeda. Bahkan di dunia yang dulu ia tak pernah menyangka. Ia merasa allah begitu menyayanginya. Allah seperti selalu mendekapnya. Pernah ia berpikir ia tidak memiliki siapa- siapa bahkan ayah dan ibu yang melahirkanya pun tidak tahu. Akan tetapi ia segera menyadari bahwasanya allah telah memberikanya anugerah yang sangat berlimpah. Ia memiki segala yang dimilki remaja sebayanya. Allah juga telah menganugerahkanya orang tua angkat yang mengasuhnya sejak masih balita dan tidak kurangnya meluapkan kasih sayangnya hingga ia hidup didalam bahtera cinta.
Allah sangat mencintainya, sangat menyayanginya. Itu yang selalu ia hayati. Itu yang membuat kalbu dan kedua matanya basah dalam tahmid dan tasbih. Ketika ibu kandungnya , entah siapa dia membuangnya dalam kardus yang diletakkan di tempat sampah pinggir jalan belasan tahun silam. Allah mengatur skenarionya hingga tiba seorang nenek penjual kue yang nenemukanya ketika diperjalanan kepasar pagi buta.
Sang nenek segera menghampiri tangisan sang bayi tersebut dan segera menyelamatkanya sebelum hujan lebat turun. Nenek itu membawanya kerumah Rt setempat. Masyarakat berebut merawatnya. Akan tetapi Mbah Tukiyem bersikukuh bahwasanya dia yang berhak mengasuhnya, Sebab ia orang pertama yang menemukanya. Sudah dua bulan ia di asuh Mbah Tukiyem dengaan kondisi serba kekurangan.
Nenek itu memberi namanya Salma. Mbah Tukiyem biasa membawanya ke pasar sambil berjualan Kue Jawa. Sejak kecil Salma tidak diberi minum susu, Akan tetapi Tajin (air rebusan beras) Tapi maha kuasa allah Salma kecil selalu diberikan kesehatan oleh allah. Begitulah cerita orang-orang yang ia dengar tentang masa lalunya.
Lalu allah mengirimkan dua sosok orang tua yang sangat penyayang dan sabar. Orang- orang memanggilnya dengan Pak Hamid dan Bu Lisa. Pernikahan mereka berdua sudah berumur empat tahun dan belum diberikan keturunan. Pak Hamid dan Bu Lisa memohon kepada Mbah Tukiyem hingga menangis agar diizinkan merawat Salma. Allah meluluhkan hati Mbah Tukiyem. Dengan penuh keikhlasan dan kepercayaan Mbah Tukiyem menyerahkan salma kepada Pak Hamid dan Bu Lisa. Sebulan setelahnya Mbah Tukiyem meninggal dunia di masjid kampong ketika sujud Sholat Dhuha.
Mengingat cara meningga Mbah Tukiyem, Dan mengatakan bahwa Mbah Tukiyem termasuk orang yang beruntung, karena menjadi contoh khusnul khotimah yang nyata. Banyak yang menginginkan meninggal seperti Mbah Tukiyem , meninggal didalam masjid ketika sholat Duha pada sujud terakhir. Banyak orang yang mengakui akan kearifan dan ketulusan hati Nbah Tukiyem dikala ia masih hidup.
Ia menolong siapapun tanpa pamrih. Mbah Tukiyem itu hidupnya pas- pasan Suaminya meninggal bertahun- tahun lamanya. Anak- anaknya merantau dan sudah menikah, akan tetapi Mbah Tukiyem tidak ingin membebani siapapun, meskipun keseharianya hanya berjualan sebagai penjual Kue jawa di pasar, masalah kedermawanan Mbah Tukiyem mungkin sekampung tahu akannya.
Dan kini, dirinya anak yang ditemukan dalam kardus yang diletakkan di tempat sampah itu berada dalam pesawat antar benua, allah mengizinkanya menyelesaikan program Strata satunya di negeri Cleopatra itu, dengan predikat mahasiswa terbaik gelar Licence. Sesekali ia memerhatikan kelancaran pesawat dengan peta dilayar monitor yang tepat dihadapanya.
Labels:
Cerpen


Kembangkan bang
BalasHapusAssiyaap makasih kak
HapusMantul sih antum
BalasHapusBelajar dari antum ustadz mohon bimbingan dan doanya
Hapus